Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Aray Rayza A

Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Percayalah, Mempercayai Tidak Pakai P

OPINI | 02 September 2012 | 11:39 Dibaca: 708   Komentar: 2   0

*Aray Rayza

Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia memiliki banyak keunikan. Hal itu salah satunya dibuktikan dengan adanya hukum nasalisasi. Nasalisasi berasal dari kata nasal, yang berarti bersangkutan dengan bunyi bahasa yang dihasilkan dengan mengeluarkan udara melalui hidung, yaitu m, n, ng, dan ny, kemudian diberikan imbuhan -isasi menjadi nasalisasi berarti pelepasan udara melalui hidung pada waktu menghasilkan bunyi bahasa.

Nasalisasi dibagi dua: pertama, nasalisasi huruf konsanan/vokal yang bersuara (tidak luluh). Contoh: andai - mengandaikan, bantah- membantah, cinta- mencintai, duga -menduga,ejek - mengejek, fasilitas - memfasilitasi, gambar - menggambar, hukum - menghukum, iris - mengiris, jauh - menjauhi, makan - memakan, nikah - menikah, ompol - mengompol, qasar - mengqasar, usul - mengusulkan, vonis - memvonis, ziarah - menziarahi; kedua, nasalisasi konsonan yang tidak bersuara (luluh). Contoh: konsumsi - meng…onsumsi (konsonan /k/ luluh), taat - men…aati (konsonan /t/ luluh), sapu - meny…apu (konsonan /s/ luluh), populer - mem…opulerkan (konsonan /p/ luluh). Nasalisasi memopuplerkan mungkin agak tabu bagi para pengguna bahasa karena biasanya menggunakan kata mempopulerkan.

Lain halnya dengan kata kristal, tradisi, stabil, dan produksi. Nasalisasi luluh tidak berlaku pada bentukan kata tersebut karena memiliki dua huruf konsonan di awal kata, yaitukr, tr, st, dan pr. Bentukan kata tersebut bukan: mengristal, menradisi, menyetabil, dan memroduksi, akan tetapi: mengkristal, mentradisi, menstabilkan, dan memproduksi. Kataberawalan kr, tr, st, dan pr tidak luluh bila diberikan prefiks me-N.

Pemakaian hukum nasalisasi ini masih banyak menuai kontroversi. Mulai dari kalangan akademisi hingga para ahli. Mereka menggunakan hukum nasalisasi sesuai dengan apa yang didengar atau dipelajari. Namun, sayang, justru apa yang didengar dan dipelajari tersebut hanya sebatas mengikut saja tanpa berpedoman Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak kalah pula media massa yang juga ikut andil, semisal surat kabar, majalah, hingga buku-buku akademik di perguruan tinggi.

Para pengguna bahasa (akademisi hingga para ahli) kadang tidak konsisten dengan hukum nasalisasi ini. Justru, malah si pembuat KBBI itu sendiri yang tak konsisten. Ini kadang yang menjadi aneh. Kata-kata yang masih menjadi perdebatan hingga saat ini, antara lain:mempercayai atau memercayai, mengesampingkan atau mengenyampingkan, memperhatikan atau memerhatikan, memunyai atau mempunyai, menyoalkan ataumempersoalkan, mengaji atau mengkaji, mempengaruhi atau memengaruhi, pekerja ataupengerja.

Beberapa contoh di atas banyak mengecoh para pengguna bahasa. Nasalisasi konsonan K-T-S-P terkadang tidak melulu luluh. Semisal kata samping, dalam KBBI menjadimengesampingkan bukan mengenyampingkan. Padahal bukan diawali dua huruf konsonan, yakni huruf s dan a. Contoh lainnya, kata kerja, diberikan prefiks pe,- menjadi pekerja, kenapa bukan pengerja, bukanah huruf /k/ luluh, apalagi tanpa dua huruf konsonan di awal kata, yakni k dan e. Selain itu kata punya (berasal dari kata empunya) tidak luluh menjadimemunyai, dalam KBBI bentukannya mempunyai (huruf /p/ tidak luluh). Nah, jika berpedoman pada kata dasarnya, yakni empunya, maka seharusnya menjadi me-empunya-iMungkin karena bentukan me-e dalam bahasa Indonesia tidak ada, maka bentuknya menjadimempunyai. Kata pengaruh, di beberapa koran harian, ada yang menggunakanmemengaruhi, ada pula yang menggunakan mempengaruhi (dengan huruf /p/ tidak luluh). Bentukan yang benar di KBBI ialah memengaruhi.

Lain halnya jika kata tersebut sudah bercampur dengan prefiks me-N atau pe-N, semisal satu - persatuan- mempersatukan, bukan memersatukan karena kata dasarnya adalah satu. Begitu pula dengan besar - perbesar - memperbesar (konsonan /p/ tidak luluh),bukan memerbesar. Nah, bagaimana dengah kata hati, apakah menjadi memperhatikan ataumemerhatikan? Dalam KBBI nasalisasi yang benar adalah memerhatikan karena kata dasarnya ialah pemerhati, bukan hati.

Nah, apakah sekarang Anda percaya, bila mempercayai tidak pakai p?


*Penulis adalah mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten.

No. Kontak: 087771480255

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 11 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | 7 jam lalu

Si Bintang yang Pindah …

Fityan Maulid Al Mu... | 8 jam lalu

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | 8 jam lalu

Jokowi Mirip Ahmadinejad …

Rushans Novaly | 8 jam lalu

Alternatif Solusi Problem BBM Bersubsidi …

Olivia | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: