Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Ancaman Kata-kata Asing dan Revolusi Bahasa Indonesia

OPINI | 26 August 2012 | 08:24 Dibaca: 2391   Komentar: 20   16

Serbuan kata-kata asing yang masuk ke dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia sungguh tak dapat dibendung. Perkembangan bahasa Indonesia yang sedemikian cepat, termasuk di dalamnya penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam ilmu pengetahuan, menyebabkan bahasa Indonesia menyerap banyak kata dan istilah asing.

Banyak kalangan mencemaskan serbuan kata-kata asing ini sebagai ancaman bagi kelangsungan dan kehidupan bahasa Indonesia. Banyaknya kata-kata asing yang diserap baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing menyebabkan warna asli bahasa Indonesia dipertanyakan. Akankah bahasa Indonesia mengalami kematian sebagai bahasa ketika ‘warna kental’ bahasa Indonesia dikuasai oleh banyak kata dan istilah asing atau daerah? Siapakah yang berperan dalam pengembangan bahasa Indonesia?

Memang diakui bahwa bahasa Indonesia berkembang sangat pesat. Perkembangan bahasa Indonesia yang sangat cepat itu adalah hasil dari paling kurang lima pilar pengembang bahasa Indonesia: (1) pemerintah, (2) media massa, (3) lembaga pendidikan, (4) penulis dan sastrawan, (5) masyarakat pengguna. Apakah dengan peran kelima pilar pengembang bahasa Indonesia itu, bahasa Indonesia akan tetap terancam mati? Mari kita tengok lebih jauh.

Pemerintah

Sejak berdirinya negara Indonesia peran pemerintah dalam pengembangan dan kehidupan bahasa Indonesia jelas sekali. Pengakuan secara politik kenegaraan dengan ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa negara adalah bukti konstitusional tentang peran pemerintah dalam menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Untuk itu pemerintah mendirikan lembaga untuk pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia yang saat ini dikenal dengan nama Pusat Bahasa. Berbagai hasil kerja lembaga ini termasuk di dalamnya penyusunan istilah, tata bahasa, dan aneka karya di bidang kebahasaan.

Media Massa

Media massa berperan sangat penting dalam perkembangan bahasa Indonesia. Melalui media massa, baik media cetak maupun elektronik seperti surat kabar, majalah, radio, film, dan televisi, kebijakan pemerintah mengenai bahasa secara langsung maupun tidak langsung disebarluaskan. Para wartawan, reporter, sutradara dan insan media massa selalu menjadi yang terdepan dalam memopulerkan kata atau istilah baru.

Lembaga Pendidikan

Yang penulis maksud sebagai lembaga pendidikan adalah semua yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Mereka berperan dalam menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan. Dengan demikian bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Sebagai bahasa ilmu pengetahuan, bahasa Indonesia menjadi bahasa yang berperan sebagai alat berpikir bagi pengguna bahasa Indonesia.

Sebagai perwujudan bahwa bahasa Indonesia sebagai alat berpikir maka pada akhirnya hampir semua ilmu pengetahuan disampaikan baik secara tertulis maupun lisan dalam bahasa Indonesia. Bentuk lisan adalah alat antar komunikasi lisan dalam dunia pendidikan dan akademis. Bentuk tertulis berupa buku, jurnal ilmiah, buletin dan segala perangkat belajar dan mengajar juga secara otomatis ditulis dalam bahasa Indonesia.

Penulis dan Sastrawan

Sebagai bahasa yang digunakan untuk berpikir, maka dengan demikian bahasa Indonesia menjadi alat bagi para penggunanya untuk menuangkan hasil budi daya pikiran dalam bentuk lisan maupun tertulis. Peran para penulis dan sastrawan sejak awal tahun 1930-an dengan Pujangga Baru sampai sekarang tidak bisa dianggap enteng.

Kita akan selalu ingat peran dan jasa yang sangat besar para pengarang seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, Marah Rusli, Ahdijat Kartamiharja, NH Dini, HB Yassin, Muchtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, Goenawan Mohamad dan masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu per satu.

Di bidang puisi kita tentu akan ingat Chairil Anwar, WS Rendra, Soetardji Calzoum Bachri, dan Goenawan Mohamad. Mereka mampu menuliskan karya-karya mereka berupa puisi dalam bahasa Indonesia dan sekaligus membuktikan kekuatan bahasa Indonesia sebagai media untuk mengungkapkan perasaan.

Para pengarang prosa dan puisi ini mematrikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kebudayaan yang hebat. Bahasa Indonesia menjadi sarana dan alat ungkap kebudayaan dan peradaban yang disebut Indonesia.

Masyarakat Pengguna

Yang penulis maksudkan sebagai masyarakat pengguna bahasa Indonesia adalah semua orang Indonesia yang memakai bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi baik lisan maupun tertulis. Para pengguna bahasa Indonesia adalah obyek sekaligus subyek bagi kehidupan bahasa Indonesia. Sebagai obyek, mereka dituntut untuk patuh dalam menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah yang ditentukan. Sedangkan sebagai subyek, mereka dituntut untuk bertanggung jawab bagi kelangsungan hidup bahasa Indonesia. Karena tanpa mereka bahasa Indonesia akan mengalami kemunduran bahkan kematian.

Sebagai pengguna bahasa, sebagai akibat dari komunikasi dan interaksi antar masyarakat di lingkungan baik homogen maupun heterogen, masyarakat membentuk dialek dan gaya (ucapan) dalam berbahasa Indonesia berdasarkan kedaerahan. Maka lahirlah bahasa Indonesia dengan berbagai logat seperti yang ditemui di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Melayu, Batak, Ambon, Bali, Nusatenggara, dan lain-lain.

Logat-logat ini hanya memiliki kekhasan berupa sedikit perbedaan dalam pengucapan misalnya bunyi /e/. Misalnya dalam kata sebab, termasuk, karena, dengan, dan lain-lain. Logat daerah ini juga memengaruhi diksi atau pilihan kata seperti keliru, ogah, enggan, selepas, dan kata-kata lainnya sesuai dengan daerahnya.

Selain itu dalam hal penulisan kata seperti rapi, gaji, di beberapa daerah masih ditulis rapih dan gajih. Perbedaan penulisan ini - dengan mengesampingkan benar-salahnya cara penulisan - sungguh dipengaruhi kebiasaan dari bahasa ibu.

Ancaman Kematian dan Revolusi Bahasa Indonesia

Dari kelima pilar itu, sebagai akibat aktivitas dan interaksinya, tak bisa dipungkiri bahasa Indonesia mendapatkan tambahan kosa-kata baru. Berbagai istilah baru muncul, misalnya canggih, tayang, petahana, pantau yang dua puluh lima tahun lalu belum begitu populer dan dikenal luas.

Namun tantangan bahasa Indonesia juga sedemikian berat ketika dihadapkan pada keterbatasan istilah yang bahasa Indonesia sendiri belum memiliki. Misalnya kata demokrasi. Sebagai istilah, jelas kata demokrasi hanya diambil saja sebagai kosakata bahasa Indonesia dari bahasa asing. Padanannya dalam bahasa Indonesia tidak ada. Demikian pula istilah-istilah keagamaan seperti iman, takwa atau taqwa, rezeki juga dipungut saja sebagai bagian dari bahasa Indonesia.

Selain itu, kemampuan bahasa Indonesia yang lentur dalam menyerap dan membentuk kata-kata asing menjadi kosakata bahasa Indonesia juga semakin membuat bahasa Indonesia kaya akan istilah. Namun di sisi lain, bahasa Indonesia menjadi kehilangan warna ‘ke-Indonesiaan-nya’ ketika terlalu banyak kata-kata serapan asing dipakai.

Sebagai contoh, kata aktivitas ada padanannya dalam bahasa Indonesia yakni kegiatan, namun banyak orang menggunakan kata aktivitas sebagai bentukan dari kata activity. Juga kata aktif, bentukan dari kata active. Padahal ada kata giat dalam bahasa Indonesia.

Apakah dengan demikian bahasa Indonesia akan kehilangan ‘warna aslinya’? Apakah dengan banyaknya istilah asing akan menjadi ancaman dan bahkan akan membuat bahasa Indonesia mati?

Menurut penulis, penggunaan kata-kata serapan baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing justru menguatkan bahasa Indonesia. Masuknya suatu kata atau istilah asing, yang tentunya telah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan mengalami penyesuaian dalam penulisannya, justru memperkaya bahasa Indonesia. Hal ini menjadi bukti keterbukaan dan kelenturan bahasa Indonesia dalam menerima istilah dan kosakata asing. Kelenturan dan keterbukaan ini adalah dua dari beberapa syarat yang mampu menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang akan semakin berkembang dan hidup.

Sebagai tambahan, untuk mempercepat bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia yang modern dan ilmu pengetahuan, bahasa Indonesia harus berani (baca: Pusat Bahasa) menerima dan mendorong usulan yang revolusioner untuk melengkapi tata bahasa dan kosakatanya. Dalam hal bentukan kata misalnya, istilah kata asing dan non-asing harus dihilangkan. Seragamkan cara penulisannya.

Aturan tentang pembentukan kata bahwa ‘huruf p itu luluh‘ sebenarnya mengharuskan tak ada awalan atau prefiks ‘memper+an‘. Yang seharusnya ada hanya ‘memer+an‘. Jadi kita tak perlu bingung dalam membentuk kata yang berawalan huruf ‘p’, misalnya kata memohon, memerkosa, memraktekkan, memupus, memerhatikan/memperhatikan dan sebagainya.

Hal lain tentang kosakata yang belum ada padanan bahasa Indonesianya misalnya kata parent, atau parents. Penulis mengusulkan penggunaan kata bahasa daerah misalnya kata (dari bahasa Jawa) biyung. Kata biyung ini bisa sepadan dengan kata parent atau parents. Selama ini kita menerjemahkan old person dan parents sebagai orang tua. Demikian pula kata liyan - dipopulerkan oleh Goenawan Mohamad (bahasa Jawa) bisa digunakan untuk menggantikan kata orang lain (other person / people) baik kata tunggal maupun jamak.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan kata-kata asing oleh kelima pilar bahasa Indonesia justru akan membuat bahasa Indonesia tetap hidup dan tak perlu dikhawatirkan. Justru penyerapan kata dan istilah asing, sekaligus pembentukannya, menguatkan dan membuktikan kelenturan dan keterbukaan bahasa Indonesia yang sangat demokratis. Namun demikian, untuk menuju bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia yang modern, bahasa Indonesia (baca: para pemangku kepentingan) harus melakukan revolusi, khususnya dalam pembentukan kata dan penyerapan kata dari bahasa asing dan daerah.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wahana Baru Ice Age Arctic Adventure, Dufan …

Rokhmah Nurhayati S... | | 19 April 2014 | 01:35

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Araira …

Fandi Sido | | 16 March 2014 | 19:39

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 9 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 21 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: