Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Rasawulan Sari Widuri

Jakarta, I am really lovin it !

Selamat Tinggal Bahasa Daerah, Selamat Datang Bahasa Indonesia

OPINI | 23 August 2012 | 16:23 Dibaca: 469   Komentar: 3   0

Saya adalah keturunan Betawi dan Sunda. Sehingga dapat dikatakan bahwa saya merupakan peranakan Betawi-Sunda. Masa kecil hingga remaja saya yang dihabiskan di daerah Jawa Barat, membuat saya fasih berbahasa Sunda. Namun selama ini, percakapan saya di lingkungan keluarga lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dikarenakan ayah saya tidak dapat menggunakan bahasa Sunda secara fasih benar. Otomatis sejak kecil saya telah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia.

Ibu saya yang notabene berasal dari Jawa Barat sudah tidak terlalu fasih menggunakan bahasa Sunda sejak beliau hijrah ke Ibukota. Sedangkan masa sekolah saya mulai dari SD hingga SMA dihabiskan di lingkungan orang Sunda. Sehingga semua pelajaran bahasa Sunda saya lebih banyak otodidak dari lingkungan sekolah dan sepermainan di komplek perumahan saya. Memang sampai dengan SMP adalah masa sulit bagi saya, dimana ada pelajaran wajib berbahasa daerah. Di saat orang lain dengan mudahnya mempelajari bahasa daerah, maka saya harus belajar ekstra dikarenakan tidak ada satu orangpun di lingkungan keluarga yang mengerti tatabahasa Sunda. Saya mempunyai kamus bahasa sunda dan juga buku peribahasa sunda untuk menunjang belajar bahasa Sunda saya. Ini dikarenakan ibu saya tidak mau ambil pusing atas semua PR pelajaran bahasa Sunda.

Menginjak bangku kuliah, saya ternyata melanjutkan kuliah di Bandung. Dan dengan teman-teman yang lebih dominant berasal dari Jawa Barat. Pergaulan membuat saya sedikit demi sedikit mempelajari ragam kosakata dan dialek dari beberapa daerah di Jawa Barat. Bahasa ’lemes’ dan ’kasar’ di setiap daerah ternyata berbeda-beda. Fakta yang menarik adalah bahwa kami menjalin komunikasi secara umum menggunakan bahasa Sunda dengan logat daerah. Ini berlaku juga untuk teman-teman kami yang berada di luar daerah Jawa Barat. Kami tetap bangga dengan logat daerah kami.

Namun beberapa tahun belakangan ini saya mulai memperhatikan bahwa penggunaan bahasa daerah sudah mulai luntur. Hasil pengamatan terdekat adalah ketika saya bertemu dengan keponakan saya di kampung. Bahasa yang digunakan bukan lagi bahasa Sunda namun bahasa Indonesia. Sejenak saya merenung, bahasa Indonesia yang digunakan oleh keponakan saya jauh lebih bagus dibandingkan saya. Mulai dari logat sampai dengan kosakata. Sehingga jika ditelaah lagi, maka keponakan saya tidak akan kentara sebagai orang daerah.

Sejujurnya, saya merasa bangga bahwa saat ini, penggunaan bahasa Indonesia sudah populer di berbagai daerah. Televisi, radio dan internet menjadi media yang menjembatani populernya penggunaaan bahasa Indonesia di semua pelosok Nusantara. Bahkan di daerah pedalaman seperti Papua pun, penggunaan Bahasa Indonesia sudah semakin banyak. Walaupun disayangkan bahwa di satu sisi ada sedikit rasa waswas bahwa bahasa daerah akan semakin ditinggalkan.

Menyambut bulan bahasa di Oktober nanti, saya berharap perkembangan serta penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat terus digalakan di seluruh pelosok nusantara. Karena berdasarkan salah satu sumber bahwa di abad 22 nanti, bahasa yang akan tetap ada hanya tinggal bahasa Inggris dan Mandarin. Sehingga seyogjanya kita sebagai warga negara Indonesia tetap dapat melestarikan warisan budaya kita yaitu Bahasa Indonesia. Ucapkan Selamat Datang untuk Bahasa Indonesia !

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Jalan, Super Admin Kompasiana! …

Nurul | | 27 August 2014 | 11:44

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Tukang Ojek yang Membawa Perdamaian di Kota …

Uwais Azufri | | 27 August 2014 | 14:30

Artis Cantik Penginjak Bendera ISIS …

Den Hard | | 27 August 2014 | 12:26

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 10 jam lalu

Pak Jokowi, Buka Hubungan Diplomatik dengan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Persaingan Para Istri Bersuamikan WNA …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

“Tuhan, Mengapa Saya Kaya?” …

Enny Soepardjono | 12 jam lalu

DPRD Jakarta Belum Keluar Keringat, tapi …

Febrialdi | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: